![]()
Government Tegal City
Jl. Ki Gede Sebayu No. 12 Tegal
Phone : 0283 355137, 0283 355138 Fax : 0283 353673
e-mail : info@tegalkota.go.id
Rubah Bahasa
Budidaya dibidang perikanan tidak hanya terpaku pada satu sistem saja. Apapun itu sejauh dapat memberikan nilai lebih dan menghasilkan tentu bisa menjadi solusi atau langkah baru bagi pembudidaya maupun masyarakat yang ingin berwirausaha. Seperti yang telah dilakukan SUPM Negeri Kota Tegal, telah berhasil membudidayakan udang jenis udang Vannamei menggunakan sistem Busmetik atau lebih dikenal dengan Budidaya Udang Skala Mini Empang Plastik.
Busmetik kali pertama dicoba pada 14 Juni 2014 dan awal September kemarin sudah dipanen sebanyak 2 ton 12 kilogram. Pada tahap kedua ini, SUPM Kota Tegal kembali menabur benur vannamei sebanyak 150 ribu benih. Tabur benih dilaksanakan Kamis (9/10) pagi di tambak SUPM Negeri Kota Tegal yang berlokasi sebelah utara Perumahan Sub Inti Martoloyo.
Kepala SUPM Negeri Kota Tegal, Anasri APi M.Si mengatakan, Busmetik selain sebagai terobosan baru budidaya udang juga dalam rangka meningkatkan kompetensi siswa jurusan teknologi budidaya perikanan SUPM Kota Tegal. Dengan adanya sarana praktek ini setelah lulus nanti siswa memiliki bekal ilmu budidaya. Menurut Anasri, Busmetik baru pertama di kota tegal dan dilakukan di SUPM.
Dijelaskannya, dinamakan Busmetik karena menggunakan media plastik yang awet dan bisa digunakan berkali-kali. Adapun penggunaan plastikan agar air tidak terkontaminasi racun dari tanah. Pasalnya virus, bakteri dan racun juga bisa muncul dari tanah. Ditambah dengan karakteristik udang yang memerlukan perawatan ekstra, tidak seperti ikan pada umumnya. Diakui Anasri, membudidaya udang sama halnya merawat bayi. Pembudidaya harus benar-benar rutin memeriksa pH air, kondisi ketinggian air, sirkulasi air dan hal lainnya. Salah satu terhambat atau tidak sesuai maka dipastikan akan merugi karena bisa menyebabkan udang stress dan mati.
Pada Busmetik ini, salinitas air benar-benar dijaga. Sementara untuk satu siklus panen dibutuhkan waktu selama 110 hari udang baru bisa dipanen dan dijual. Selama waktu tersebut pemeriksaan rutin terhadap tambak terus dilakukan. SUPM sendiri memberdayakan siswa-siswi dari kelas 1 dan 2 sebagai pembelajaran dan pengetahuan dengan jadwal piket. Siswa yang tugas piket akan terus memantau dan memeriksa pH air dan kondisi udang.
Ditambahkan Anasri, untuk Busmetik memang membutuhkan biaya yang cukup besar. Untuk penyiapan lahan, pembelian benur, plastik dan alat pendukung lainnya bisa mencapai Rp. 200 juta. Jumlah tersebut juga belum ditambah dengan biaya operasional selama 110 hari untuk pembelian makan udang, obat-obatan, listrik dan upah pekerja yang mencapai sekitar Rp. 70 juta. Namun dari modal tersebut, bisa ditutup dalam 2 sampai 3 kali panen. Sebab harga jual udang vannamei lumayan tinggi, mencapai Rp 100 – 110 ribu per kilonya.
Pembudidaya juga tidak perlu khawatir karena konsumen atau peminat vannamei sangat tinggi. Begitu mendengar adanya budidaya vannamei mereka akan datang dan menawarnya. Anasri berharap dengan adanya terbososan baru budidaya udang ini bisa berkembang di kota Tegal dan banyak masyarakat yang beralih berwirausaha sehingga dapat meningkatkan derajat dan kesejahteraan masyarakat.