Pemerintah Kota Tegal

Mewujudkan Pemerintahan yang Bersih, Profesional, Akuntabel, Berwibawa dan Inovatif, Berbasis Teknologi Informasi

Peta Kota TegalSelayang pandang

Pemerintah Kota Tegal
Jl. Ki Gede Sebayu No. 12 Tegal
Telp : 0283 355137, 0283 355138 Fax : 0283 353673
e-mail : info@tegalkota.go.id

Change Language

Menu
FaceBook  Twitter  Mixx.mn     

Tegal Kota _ Pendidikan yang memerdekakan siswa ialah pendidikan yang memberi kebebasan bagi peserta didik. Munculnya kurikulum merdeka dan istilah merdeka belajar menjadi sorotan di dunia pendidikan saat ini. Sebenarnya, Blue Print dari kurikulum merdeka sudah dirancang sejak 15 tahun yang lalu oleh ahli pendidikan. Hal tersebut yang dikatakan Kaslani, S.Pd, M.Pd selaku praktisi pendidikan saat dihubungi Tim Sebayu FM di Sapa Kota Tegal, Kamis (16/03/2023).

"Kurikulum merdeka belajar sebenarnya dirancang sudah lama dan dirancang sebagai kurikulum yang berpihak pada murid," ujarnya. Dijelaskan Kaslani, Pendidikan yang berpihak pada murid maksudnya adalah peserta didik bebas menentukan pembelajaran yang diinginkan namun tetap sejalan dengan tujuan pembelajaran nasional dan capaian pembelajaran yang telah ditentukan hanya caranya saja yang berbeda. “Setiap sekolah memiliki treatment yang berbeda untuk peserta didiknya, bahkan setiap kelaspun mempunyai metode belajarnya sendiri-sendiri,” tambahnya.

Ditegaskan Kaslani, Cara belajar harus sesuai dan membuat murid nyaman. Sebenarnya tujuan dari belajar adalah untuk hidup mandiri dan merdeka dari tekanan agar bisa berkontribusi di masyarakat. Untuk itu, beliau menekankan kepada orang tua agar dapat mendidik anak sesuai dengan potensi yang anak miliki. “Jangan membalaskan dendam masalalu orang tua kepada anak. Didiklah anakmu sesuai dengan perkembangan zaman. Berikanlah ruang gerak kepada mereka agar mereka bisa menjadi apa yang mereka inginkan," katanya.

Kaslani selaku praktisi pendidikan turut mengomentari kasus tawuran yang akhir-akhir ini marak terjadi di wilayah Kota Tegal dan sekitarnya. Menurutnya, tawuran terjadi karena tidak adanya tempat atau fasilitas untuk anak/siswa dalam mengespresikan dirinya. "Sebagai contoh, ketika anak sedang berada dilingkungan sekolah dan ingin menujukkan ekspresi tertentu, Sekolah langsung menolaknya. Padahal seharusnya sekolah bisa menciptakan suasana menyenangkan untuk siswanya, sehingga ekspresi siswa bisa disalurkan,” ujarnya. (nisa)

Top