Pemerintah Kota Tegal

Mewujudkan Pemerintahan yang Bersih, Profesional, Akuntabel, Berwibawah dan Inovatif, Berbasis Teknologi Informasi

Peta Kota TegalSelayang pandang

Pemerintah Kota Tegal
Jl. Ki Gede Sebayu No. 12 Tegal
Telp : 0283 355137, 0283 355138 Fax : 0283 353673
e-mail : info@tegalkota.go.id

Change Language

Menu
FaceBook  Twitter  Mixx.mn     

Wakil Walikota Tegal Muhamad Jumadi, ST., MM membuka Coaching Clinic Kelompok Kerja Perumahan dan Kawasan Permukiman (Pokja PKP) Penanganan Kawasan Permukiman Kumuh Tegalsari (Siwatu), Rabu (11/12) di Hotel Sun Q Ya, Guci, Tegal.

Jumadi berharap penataan pemukiman Siwatu Tegalsari tidak hanya bertujuan untuk mengurangi luasan kumuh tetapi juga sebagai ruang publik sekaligus sebagai ikon baru Kota Tegal dengan pembangunan ruang terbuka hijau dan floating market disisi selatan Siwatu.

Selain itu, kata Jumadi, penataan Siwatu Tegalsari ini dapat mendukung upaya Pemkot Tegal untuk mewujudkan perekonomian daerah yang berdaya saing berbasis keunggulan potensi lokal. Mewujudkan infrastruktur yang memadai dan melestarikan lingkungan untuk pembangunan berkelanjutan.

MJ (Sapaan akrab Muhamad Jumadi) menambahkan bahwa Walikota sudah menerbitkan surat komitmen untuk mendukung penataan Siwatu baik dalam hal dukungan kebijakan maupun dukungan dana APBD melalui Disperkim maupun OPD terkait lainnya. Untuk itu, Jumadi berharap adanya dukungan dari Pemerintah Pusat agar rencana penataan Siwatu ini segera terwujud.

“Kita harus bekerja sama, bersinergi, berkolaborasi untuk pembangunan kota Tegal. Semuanya harus bahu membahu,” imbuh Jumadi.

Hal senada juga disampaikan Kasi Kawasan Permukiman Wilayah IIA Direktorat PKP Kementerian PUPR Valentina, ST., M.Si, M.Plan, bahwa dalam pengentasan kawasan kumuh membutuhkan kolaborasi. Tidak semua dianggarkan oleh APBN, sehingga butuh komitmen dari Pemerintah Daerah.

Valentina menambahkan, penataan Siwatu harus dapat menjawab permasalahan di kawasan tersebut. Tentunya dapat mengentaskan pemukiman kumuh sehingga 7 indikator kawasan kumuh hilang. Tujuh indikator tersebut, meliputi kondisi bangunan, kondisi jalan lingkungan, penyediaan air minum, drainase, pengelolaan limbah, pengelolaan sampah, dan kondisi proteksi kebakaran.

Selain itu, Dia juga berpesan ketika kawasan Siwatu sudah dibangun perlu dipikirkan untuk mengelola. “Siapa yang akan mengelola, pemeliharaannya dan sebagainya,” pungkas Valentina.

Top