Tegal Sebelum Abad 19

  • PDF
  • Print
  • E-mail

Dalam catatan Tome Pires pada dasawarsa kedua abad ke-16 juga menempatkan “Teteguall” (Tegal) sebagai bandar yang penting di sepanjang pantai utara dan pantai timur Jawa (F.A. Sutjipto Tjiptoatmodjo, 1983: 44)    Perdagangan di Tegal pada akhir abad ke-16 dikuasai oleh kaum bangsawan (F.A. Sutjipto Tjiptoatmodjo, 1983 : 44).  Namun demikian pengurusan langsung  usaha dagang ditangani orang-orang yang mereka percayai. Kaum bangsawan lebih bertindak sebagai penanam modal dalam perdagangan dan pemilik sebagian besar perahu-perahu.

Tegal merupakan daerah yang dipercaya Mataram pada masa Sultan Agung dan Amangkurat I sebagai daerah pengaman bagi kerajaan. Pada masa itu banyak prajurit Jawa yang ditempatkan di Tegal. Tetapi setelah adanya kontrak  antara kompeni  dan Sunan Pakubuwono II, disebutkan dalam vasal II kontrak tersebut yang berbunyi supaya sunan menarik atau memanggil prajurit itu ke istana. Dalam kontrak baru perdamaian antara Pakubuwono II dengan Kompeni juga mewajibkan sunan untuk mengumpulkan alat-alat dan tenaga  untuk membangun dan memperbaiki loji yang ada di Tegal (F.A. Sutjipto, 1983: 205)

Pada masa terjadi pertempuran antara Mataram  dengan Madura awal abad ke-17 kompeni mendapat kesukaran  untuk memperoleh beras  dari bandar-bandar Mataram karena semua perahu Mataram digunakan untuk keperluan perang. Untuk mengatasinya maka Kompeni Batavia terpaksa mengirimkan  kapal-kapalnya ke Tegal, Demak, Jepara, dan Kendal untuk mengangkut beras. Pada awal abad ke-18 kota Tegal juga memainkan peran yang sangat penting. Dimana pada saat itu Kompeni berusaha memperkuat pertahanan Tegal agar tidak jatuh ke tangan Mangkubumi. Pertahanan Kompeni terhadap Tegal itu dengan tujuan untuk mempekuat pertahanan kota dalam menghadapi penyerangan dari Pangeran Mangkubumi pada masa Perang Giyanti. Pertahanan yang dilakukan Belanda dengan cara mendatangkan pasukan dari Madura dan Surabaya sebanyak  2000 orang.

Pada masa Kerajaan Mataram, wilayah Tegal menjadi bagian dari kekuasaannya. Dengan demikian maka kepala daerahnya diangkat oleh pemerintah kerajaan dengan surat ketetapan (piagam) raja. Pada masa pemerintahan kolonial,  surat ketetapan itu dikeluarkan oleh pemerintah kolonial  di Batavia (B. Schrieke, 1957: 153-205)

Pada tahun 1600-an, Tegal  merupakan daerah yang ditunjuk Sultan Agung sebagai tempat untuk membawa beras dengan perahu yang diperlukan bagi persediaan pangan tentara Mataram dalam menyerang VOC di Batavia. (J.W. van Dapperen, 1933: 334)

Tanggal 31 Agustus 1629  hampir keseluruhan pasukan tiba di daerah sekitar Batavia. Mereka datang berkuda membawa bendera, panji-panji , dan  juga gajah.  Saat sampai Batavia, Mataram mengatur siasat dengan mengirim seorang utusan  yang bernama Warga  untuk meminta maaf kepada kompeni  mengenai hal yang telah terjadi. Kompeni menerima Warga dengan baik,  sementara itu kedua kalinya, ia ditangkap dan ditanyai  tentang kebenaran berita, bahwa  Mataram hendak menyerang  Batavia lagi. Hal ini dibenarkan oleh Warga  dan rahasia bahwa Tegal  menjadi gudang persediaan beras  bagi tentara Matarampun terbuka. Setelah mendapat keterangan ini kompeni mengirimkan armadanya ke Tegal , dimana perahu-perahu Mataram, rumah-rumah, dan gudang-gudang beras  bagi tentara Mataram dibakar habis. Setelah Tegal dirusak, Kompeni mengarahkan perhatiannya kepada Cirebon. Akibat pemusnahan gudang beras Mataram, usaha pengepungan Batavia tidak berlangsung lama (Marwati Djoened, dkk, 1992: 74-75).  Total kerugian yang diderita  Mataram di Tegal sebanyak 4.000 pikul bersama dengan 200 perahu (J.W. van Dapperen, 1993: 334 dan  H.J. de Graaf, 1958: 176).   Kira-kira 100 perahu yang datang dengan padi menurut Tumenggung itu akhirnya akan dikirim untuk Batavia. Dia menghendaki agar semua padi itu ditumbuk di Tegal.

Persiapan Mataram untuk menggempur Batavia sebenarnya sudah terdeteksi oleh mata-mata VOC. Mata-mata itu melaporkan bahwa Mataram telah mengangkut dan menimbun sejumlah besar beras di sepanjang pantai, utamanya di daerah Tegal. Sebelum dibawa ke Batavia, padi yang diangkut dengan 100 perahu tersebut akan ditumbuk dulu di Tegal (H.J. de Graaf, 1958: 148.)

Pada masa Amangkurat  I, Tegal direncanakan dipakai oleh sultan dan VOC untuk melakukan pertemuan berkaitan dengan pemberontakan di Mataram.  Namun belum terlaksana karena Amangkurat I meninggal dalam perjalanan sebelum sampai ke kapal VOC yang berlabuh  di Tegal. Dalam kondisi sakit sekitar dua minggu dia dibawa di dalam sebuah tandu ke arah barat melalui distrik Bagelen dan pegunungan di Banyumas. Sultan  berharap dapat mencapai Tegal  untuk bertemu dengan VOC yang telah menunggunya di dalam Kapal. Amangkurat I meninggal di sebuah desa kecil  sebelum mencapai pantai. Tubuhnya diantarkan ke Tegal dan dikebumikan di atas bukit buatan yang diberi nama Seda ing Tegal Wangi. Putra mahkota, yaitu Amangkurat II menggantikan ayahnya menjadi raja Mataram sekaligus diakui oleh VOC sebagai penguasa di Tegal dan Jepara (H.J. de Graaf, T.G. Th. Pigeaud, 1976: 74).  Setelah kematian Amangkurat I sebenarnya penguasa Tegal, Tumenggung Martalaya telah menyarankan kepada Amangkurat II untuk tidak meminta bantuan VOC dalam menumpas pemberontakan Trunojoyo di Jawa Timur Tetapi saran ini ditolak, dia cenderung lebih kooperatif dengan VOC, bahkan penguasa Tegal  tidak disukai oleh Sultan (Thomas Stamford Raffles, 1994: 166)

Pada tahun 1677 ketika Amangkurat II menandatangani kontrak dengan VOC, daerah  Jepara dan Tegal  merupakan suatu tempat yang tersisa di sepanjang pantai (Luc Nagtegal,1996: 26) utara Jawa yang belum dikuasai oleh Pasukan Trunojoyo  Perbatasan wilayah antara kompeni dan Mataram menggunakan patokan sungan Tjilosari Tegal (Alexandra A. de Heus, 1974: 7). Berkat jasa VOC terhadap Mataram pada waktu membantu pemberontakan Trunojoyo, maka sekitar tahun 1680 VOC mengangkat dirinya sebagai penguasa di pesisir Jawa, termasuk di Tegal.  Di tempat inilah VOC membangun benteng yang kuat dan membangun pos perdagangan.  Di sini sebenarnya mulai muncul embrio penduduk Eropa yang mendiami Kota Tegal. Pada awalnya sekitar tahun 1680 masyarakat Eropa tinggal dan membangun  benteng, sehingga keberadaan mereka cukup ekslusif. Keuntungan tinggal di benteng adalah keamanan terjamin dan secara militer kekuatan VOC tidak pernah terpotong dari laut.  Keberadaan orang Eropa di benteng sejalan dengan kebijakan antara VOC dan Bupati Tegal untuk mengelompokkan pedagang Eropa dan tentara Eropa terpisah dari  penduduk Jawa. Mereka tinggal dibenteng dan tidak  seorangpun dapat masuk ke lokasi itu tanpa seijin VOC dan bupati. Dalam perkembangannya karena hidup di dalam benteng tidak menyenangkan, sehingga mereka pindah ke rumah yang dibuat permanen di kota (Alexandra A. de Heus, 1974: 89-94). Adapun orang-orang Jawa tinggal di sebelah timur kampung kota dan orang-orang Cina tinggal di sebelah selatan.

Pemukiman Eropa di kota ini terletak di dekat laut, di sekitar suatu lapangan luas dekat rumah residen, di depan benteng. Di depan rumah residen terdapat gudang-gudang, sedangkan  di tepi laut dan di belakang bangunan ini terletak sebuah fondasi bagi bangunan kubah gereja Tegal (P.J. Veth, 1869: 850)

Pada masa Pakubuwono II, Sunan  meminta bantuan VOC dalam menumpas pemberontakan Cina (1740-1743). Melalui perjanjian tanggal  18 Mei 1746, maka daerah pesisir Mataram yang masih tersisa diserahkan kepada kompeni, termasuk Tegal (Perjanjian  1 November 1743 dan 18 Mei 1746, antara Pakubuwono II dan Kompeni terdapat  dalam arsip Solo , box  53 no. 5. Arsip. 31).  Posisi transportasi Tegal juga cukup strategis karena dapat dilalui dengan menggunakan jalur darat. Rute darat di antara Tegal dengan daerah lain atau ke pedalaman pernah dijelaskan oleh Gubernur Jenderal van Imhoff.  Dia menggambarkan bahwa dalam kunjungannya ke Mataram tahun 1746, dari Surakarta ke Tegal melewati Kartasura, Jogjakarta kemudian lewat Kota Gede menuju pantai  Selatan menyusuri pinggir  sungai Bagawanta  lewat Bagelen, Roma (Karanganyar), Pamerden (Merden) di Purworejo Timur) lalu ke Banyumas jalan kaki melewati Gunung Slamet ke Tegal. Di samping itu  sesampai di Banyumas ada pula jalan utama yang bercabang menuju Tegal  sebagaimana yang dilalui oleh Amangkurat I tahun 1677. (B. Schrieke, 1957: 107-108).

Secara ekonomi, Tegal telah berkembang sejak lama yaitu saat VOC mengembangkan sayapnya di pesisir Jawa. Pada tahun 1678, telah ada usaha  untuk menjamin beberapa bisnis  di Tegal meskipun  ada perkembangan yang mengkhawatirkan. Pegawai pos perdagangan VOC yang baru tiba di Tegal melakukan usaha untuk mematikan suatu sistem skala yang lebih kecil, dengan cara menyediakan tekstil secara kredit bagi  wanita di pasar Tegal (Luc Nagtegal, 1996: 119).

Pada masa Amangkurat II, Mataram diintervensi oleh VOC karena imbalann terhadap jasa yang diberikan untuk menumpas pemberontakan di Jawa Timur. Bantuan Belanda terhadap Amangkurat II ini membuat Tegal dibawah kekuasaan VOC sehingga impor apapun ke Tegal termasuk pakaian dan opium harus mendapat persetujuan dari Belanda melalui Adipati Mandaraka yang telah ditunjuk VOC sebagai pemimpin Tegal.( Thomas Stamford Raffles, 1996: 181)

Namun demikian, para pesaing VOC  mencari terobosan lain dengan cara mengeksploitasi  pada skala kecil pula.  Sebagai contoh, Moors dari Banten menjual tekstil di Tegal di bawah lantai yang mereka potong di depan kapal mereka di atas pantai. Mereka menjual dengan cara membentangkan kain panjang setiap hari  selama sepuluh hari untuk menarik minat pembeli sebelum kembali ke laut lagi. Orang Cina juga demikian, mereka menjual dalam jumlah kecil  opium di pasar Tegal, serta masuk ke desa-desa secara rutin dan berkeliling menukarkan opium mereka dengan sekam padi, gula, atau yang lain (Luc Nagtegal, 1996:  117).  Jadi sebenarnya aktivitas ekonomi di Tegal telah muncul cukup lama.

Sebagai salah satu penghasil beras, maka  harga beras di Tegal tahun 1680-1740 agak lebih baik yaitu 15-20 rix dollar perkoyang (Luc Nagtegal, 1996: 157).  Pada tahun 1724, residen baru Tegal, De Laval memutuskan bahwa Tegal akan menjual beras secara langsung dari petani ke pasar. Dalam memperkuat harga, maka tujuh pembeli Eropa menetap secara permanen pada pasar beras utama di Tegal dan Pekalongan. Mereka dan pembantu orang Jawanya  membeli beras dalam skala kecil. Beras dimasukkan ke karung goni dan kemudian dikirim ke kota Tegal dengan menggunakan kereta kerbau sewaan atau perahu. Selain itu ada juga beras yang dikirim ke toko, warung, maupun di simpan di gudang. Para pembeli mempunyai hubungan yang erat dengan petani. Pembeli di Lebaksiu di selatan Tegal  memberi 2 rix dollar untuk setiap jung tanah garapan. Di sisi lain petani mengharapkan hasil kurang lebih 12.000 kati padi beras tumbuk.  Kadang-kadang penduduk datang untuk memohon kredit  dengan inisiatifnya sendiri tetapi  biasanya pembeli menyarankan untuk melakukan kredit dulu dengan tujuan agar mudah dikontrol  (Luc Nagtegal, 1996: 200).

Areal sawah yang ditanami yang ditanami oleh setiap rumah tangga pada tahun 1795-1809 terlihat dalam tabel berikut :

Areal Sawah yang Ditanami oleh setiap rumah tangga

tahun 1795-180939

Kurun Waktu 5 tahun

Jumlah Sawah dalam Hektar

1795-1799

0,55

1800-1804

0,56

1805-1809

0,53

Data tersebut menunjukkan bahwa luas areal sawah yang ditanami oleh setiap rumah tangga di Karesidenan Tegal mengalami fluktasi.

Di sektor tenaga kerja, VOC membutuhkan pekerja Jawa di pesisir untuk bongkar muat barang maupun untuk memelihara benteng. Para pekerja dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu pekerja yang tujuannya untuk memenuhi kewajibannya pada bupati dan kedua adalah pekerja VOC murni. Kedua kelompok ini menerima bentuk  imbalan jasa, menerima hak, dan kepastian bekerja pada sebidang tanah untuk memperoleh hasil atas tenaganya. Pada tahun 1705, di pos perdagangan di Tegal  tiap hari membutuhkan pekerja 40 orang untuk  tugas yang cukup sulit ini (Luc Nagtegal, 1996: 217)

Last Updated on Monday, 13 December 2010 10:15

 

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI ADMINISTRASI REKRUTMEN CALON DIREKTUR PDAM KOTA TEGAL TAHUN 2012

Recruitmen PDAM

Tabloid Warta Bahari

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday13837
mod_vvisit_counterYesterday16146
mod_vvisit_counterThis week50408
mod_vvisit_counterLast week153082
mod_vvisit_counterThis month500982
mod_vvisit_counterLast month873183
mod_vvisit_counterAll days8314560

We have: 29 guests, 1 members, 159 bots online
Your IP: 38.107.179.223
 , 
Today: May 23, 2012

ILPPD 2010

Online Support

Pengumuman Juara Lomba Hari Jadi Kota Tegal ke 432 Tahun 2012

Prakiraan Cuaca Kota Tegal dan Sekitarnya

Daftar Alamat Email SKPD Kota Tegal

Panduan Pengoperasian Email SKPD/Instansi Pemkot Tegal

Mengenal e-KTP

< May 2012 >
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 24 25 26 27
28 29 30 31      

informasi panduan bencana

Logo HUT RI 66 Tahun

Arsip
Terbaru
Populer
Media Player
Get the Flash Player To see this player.
Gerbang Mas Kota Tegal
Free Joomla Templates by JoomlaShine.com