Habib Muhammad bin Thohir Al-Haddad ( 1838 -1885 M ), Awliya Allah yang dilahirkan di kota Geidun, Hadramaut pada tahun 1838 M kemudian hijrah ke Indonesia dan menjadi keberkahan bagi warga Tegal. Khususnya dikarenakan datangnya beliau berdakwah di Tegal hingga akhir hayatnya ia dimakamkan di kompleks pemakaman Kauman atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama makam Alhaddad, tepatnya di Desa Kraton, Tegal Barat. Nasab beliau: Al Habib Muhammad bin Thohir bin Umar bin Abubakar bin Ali bin Alwi bin Abdullah (shahiburratib) Al-Haddad bin Alwi bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Alwi bin Ahmad bin Abubakar bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Abdurrahman bin Alwi bin Muhammad bin Ali bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Abdullah bin Ahmad AlMuhajir bin Isa bin Muhammad anNaqib bin Ali alUraidhi bin Ja’far asShadiq bin Muhammad Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib kw. suami dari Fatimah az-Zahra putri Rasulullah SAW.
Sanad keturunan beliau termasuk suatu silsilah dzahabiyyah, sambung-menyambung dari ayah yang wali ke kakek wali, demikian seterusnya sampai bertemu dengan Rasulullah SAW. Ayah beliau Al-Habib Thohir bin Umar Alhaddad adalah seorang ulama besar di kota Geidun, Hadramaut. Al-Habib Thohir banyak membaca buku di bawah pengawasan dan bimbingan ayah dan kakek beliau, sehingga diberi ijazah oleh ayah dan kakeknya sebagai ahli hadist dan ahli tafsir. Al Habib Muhammad bin Thohir sendiri adalah seorang yang wali min auliya illah yang sebelumnya banyak belajar dari kakeknya dan ulama hadramaut hingga dikenal sebagai ulama besar yang menjadi rujukan di zamannya. Tidak hanya Ayah dan beliau sendiri, putra-putranya pun harum namanya dengan pangkat kewalian yang masyhur yakni Habib Alwi bin Muhammad Al Haddad (1299 H- 1373 H) yang dimakamkan di Kramat, Empang, Kota Bogor dan adiknya Al-Habib Husein bin Muhammad Al Haddad (1302 H-1376 H) yang sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk berdakwah di Tuban dan Jombang, Jawa Timur tetapi pada akhir umur, beliau dimakamkan di samping makam ayahandanya.
Habib Muhammad bin Thohir Al Haddad dikenal sebagai ulama yang dermawan. Habib yang makamnya di Makam Al Haddad, Kauman, Tegal, ini bila berkunjung ke sebuah kota, bukan beliau yang menjadi tamu mereka, tetapi justru orang kota yang menjadi tamunya, dan beliau menjamu mereka. Habib Muhammad adalah cucu Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad, Shohib Ratib; lahir di Gaidun, Hadramaut, Yaman pada tahun 1838 M. Beliau belajar agama pada kakeknya dan ulama Hadramaut, hingga di kenal sebagai ulama besar.Dalam perjalanan hidupnya, Habib Muhammad juga sukses sebagai saudagar. Bila berkinjung ke suatu tempat, beliau membawa 40 pembantunya untuk memikul berbagai keperluan untuk menjamu penduduk kota, “Bukan Habib Muhammad yang menjadi tamu, justru orang kota yang menjadi tamunya.” Ujar Habib Abdullah bin Hasan bin Husein Al Haddad, cicit beliau.Ketika berumur 47 tahun, beliau bersama dua anaknya berkunjung ke Indonesia. Selama 45 hari, beliau berdakwah dan berdagang di berbagai kota; namun kemudian jatuh sakit dan meninggal di kota Tegal pada 18 Rajab tahun 1885 M. beliau dimakamkan di pemakaman Kauman, yang kelak disebut Makam Al Haddad. Dua anaknya, Habib Husein dan Habib Alwi, masing-masing meninggal di Jombang dan di Bogor; Habib Alwi Al Haddad di makamkan di Kramat Empang.
Haul Al Habib Muhammad bin Thohir Al Haddad pertama kali diselenggarakan oleh Al Habib Muhammad bin Idrus Al Habsyi (1265 H-1337 H), Surabaya, Guru yang banyak membentuk karakter kedua putra AlHabib Muhammad bin Thohir Al Haddad. Semoga berkah ilmu dan teladan beliau senantiasa menyelimuti masyarakat Tegal khususnya dan Muslimin pada umumnya dan akan dikenang selalu dengan senantiasa mempelajari sejarah beliau dan mengamalkan ajaran dan akhlaq beliau.
(disadur dari berbagai sumber)
Last Updated on Monday, 13 December 2010 10:20




























