* Lanang Setiawan (Novelis dan pencetus Hari Sastra Tegal)
* SN Ratmana (Sastrawan angkatan 1966)
* Hadi Utomo (Sastrawan Tegalan)
* Piek Ardijanto (Sastrawan angkatan 1966)
* Eko Tunas (Cerpenis)
* Imam Tantowi (Sutradara film)
* Chaerul Umam (Sutradara film)
* Yono Daryono (Dramawan)
* Abdullah Sungkar (Arsitek)
* Nurhidayat Poso (Networker Kebudayaan)
* Widjati (Penyair angkatan '00)
* Ki Enthus Susmono (Dalang)
* Ki Slamet Gundono (Dalang)
* Wowok Legowo (Pelukis)
* Rob Schreefel (pematung Belanda)
* Alfred Eikelenboom (pelukis Belanda)
* Dito RS
* Ki Tardjono
Last Updated on Tuesday, 14 December 2010 09:45

Pawai Ta'aruf, adalah pawai tradisional yang diikuti semua lapisan masyarakat dan diadakan pada setiap tanggal 12 Robiul Awal tahun Hijriyah.Tujuan pawai tersebut ditujukan untuk memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW.
Last Updated on Friday, 18 June 2010 09:02
Pembuatan Wayang Golek Tegal sesuatu yang unik, bagaimana mungkin sebuah kota yang bukan pusat nilai Jawa (Solo dan Yogyakarta) memiliki seni pembuatan wayang golek. Wayang Golek Tegal memang memiliki gragag tersendiri dibanding dengan Solo atau Yogyakarta. Keunikan tersebut membuat Tasrip, pengrajin golek Tegal yang kini tinggal di Jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo RT. 03/RW. 01 Kelurahan Sumurpanggang, berusaha melestarikan Wayang Golek Gragag Tegal.
Banyak sekali ragam topeng di Nusantara. Salah satunya topeng gaya Tegal yang memiliki banyak bentuk. Ada enam raga gaya Tegal, diantaranya topeng Endel, Kresna, Panji, Patihan, Lanyapan Alus, dan Kelana. Topeng Endel Adalah bentuk topeng wanita dengan kostum endel yang mirip penari Gambyong. Tariannya diiringi gending lancaran ombak banyu laras slendro manyuro. Topeng Kresna bermuka merah jambu dan berambut. Gending pengiringnya adalah lancaran lelenderan naik lancaran praliman. Topeng Panji bermuka menunduk (luruh). Mukanya berwarna putih, berambut mirip tokoh Arjuna. Gending pengiringnya adalah lancaran gunung sari laras slendro patet nem.
Sedangkan, topeng Patihan memiliki mata terbuka lebar, mewakili tokoh Setiati dan Patihan Jawa, berwarna merah tua. Gending pengiringnya, lancaran blendrang laras slendro patet manyuro. Sementara topeng Lanyapan Alus memiliki bentuk muka menunduk (temungkul) dan berkumis. Warna muka kuning gading, mirip tokoh Bambangan dalam warna kulit purwa. Gending pengiring tari topeng ini adalah lancaran lagon semarangan laras slendro patet nem.
Terakhir, topeng Kelana bermata terbuka lebar, hidung menengadah ke atas dan panjang, mulut dan gigi terbuka, bertaring pendek dengan warna muka merah tua, mirip dengan tokoh Dasamuka. Gending pengiringnya, lancaran gonjing truntung laras slendro patet manyuro. Terdapat pula bentuk topeng tambahan yakni Punakawan dan topeng Kelana Yaksa serta beberapa tokoh yang disesuaikan dengan kebutuhan cerita.
Seperti dikutip dari rilis Dewan Kesenian Tegal (DKT), wayang topeng Tegal sempat jaya pada 1960-an. Namun, mulai tergusur oleh budaya modern pada 1980-an. Tari topeng Tegalan bisa dipentaskan siang maupun malam hari sesuai permintaan. Pentas topeng biasanya sekitar 3-4 jam dengan diiringi 10 panjak atau pangrawit, seorang sinden, dan seorang dalang.
Page 1 of 2







![]() | Today | 16462 |
![]() | Yesterday | 20006 |
![]() | This week | 99844 |
![]() | Last week | 128781 |
![]() | This month | 336902 |
![]() | Last month | 238478 |
![]() | All days | 6381744 |